HAGI GUEST LECTURE 2020

Himpunan Mahasiswa Geofisika Indonesia sukses menyelenggarakan Seminar pada hari Sabtu 22 Feb 2020

Kegiatan ini merupakan seminar dengan kemasan talkshow yang menghadirkan narasumber ahli pada bidangnya (pendidikan tinggi, perusahaan/industri, dan pemerintahan) untuk memberikan motivasi dan ilmu yang bermanfaat bagi peserta seminar. Seminar ini mengangkat tema “Peran Geoteknik dalam Perkembangan Infrastruktur di Indonesia”. Dengan adanya seminar ini diharapkan dapat menjadi wadah diskusi, berbagai pengalaman, dan peningkatan softskill dalam mengembangkan inovasi pada bidang kebumian guna menjawab perkembangan infrastruktur di Indonesia saat ini. Seminar ini terdiri dari dua sesi dengan sesi tanya jawab diakhir tiap sesi seminar. Dalam seminar ini akan mengenalkan Himpunan Ahli Geofisika Indonesia.

Waktu : 10.30 WIB – 12.45 WIB

Tempat :

Laboratorium Bumi dan Antariksa, Program Studi Fisika,
Departemen Pendidikan Fisika, Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudi No.229, Isola, Kec. Sukasari, Kota Bandung,
Jawa Barat 40154

SUSUNAN KEPANITIAAN

Komite Pengarah :       Lutfi Fauzan Erwin (Universitas Pertamina); Dwi Julianti (Institut Teknologi Bandung)

Ketua :                         Nabila Risty Rizkita (Universitas Padjadjaran)

Sekretaris :                   Divyana Meidita (STMKG)

Bendahara :                 Aulia R (Universitas Pertamina)

Divisi Acara

Resza Areo P. (Universitas Pertamina)

Nadhira G. (Universitas Padjajaran)

Divisi Publikasi dan Dokumentasi

Gizella Mentari Putri (Universitas Pendidikan Indonesia)

Divisi Konsumsi

Andiani L. (Universitas Padjajaran)

Divisi Humas

M. Affu (Universitas Pertamina)

Divisi Logistik

1. Fathine (Universitas Pertamina)

Berita Perjalanan TOGEMA

BERITA PERJALANAN
EKSPEDISI GERHANA MATAHARI CINCIN 26 DESEMBER 2019
TIM OBSERVASI GERHANA MATAHARI (TOGEMA)
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

MEMBURU CINCIN MATAHARI HINGGA SIAK SRI INDRAPURA

Pada Kamis, 26 Desember 2019 yang lalu, telah berlangsung fenomena Gerhana Matahari Cincin (GMC). Peristiwa alam ini merupakan kejadian gerhana Matahari terakhir sepanjang tahun 2019 dan satu-satunya (dari 3 gerhana Matahari) yang dapat diamati dari wilayah Indonesia. Mengingat jalur cincin selebar 118 km hanya melintasi pulau Sumatera dan Kalimantan, dari kampus UPI yang berlokasi di kota Bandung, Jawa Barat, fenomena gerhana ini hanya akan dinikmati sebagai Gerhana Matahari Sebagian (GMS). Dengan pertimbangan di atas, “Tim Pemburu Gerhana” Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memutuskan untuk melakukan ekspedisi ke luar Jawa. Dengan dukungan penuh dari Rektor UPI, Tim Observasi Gerhana Matahari (TOGEMA) akhirnya dapat merealisasikan mimpi di atas. Setelah mempelajari data pola cuaca di jalur cincin gerhana selama beberapa tahun ke belakang dan prediksinya pada hari kejadian, dengan bulat ditetapkan Kampung Bunsur di Kec. Sungai Apit Kab. Siak, Provinsi Riau, sebagai lokasi yang akan dituju. Pertimbangan lainnya adalah lokasi ini juga menjadi tempat diselenggarakannya Festival Gerhana Matahari Cincin di Prov. Riau, hasil kolaborasi antara Dinas Pariwisata Kab. Siak dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), yang dijadwalkan akan dihadiri pula oleh Wakil Gubernur Riau, Bupati Siak, dan Kepala LAPAN, serta kelompok musik kenamaan, Sabyan. Selain itu, di lokasi yang sama juga menjadi tempat terbaik untuk mengamati GMC kali ini, karena memberikan kesempatan terlama (yaitu selama 3 menit 40 detik) untuk dapat mengamati fase cincin dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya.
Tim yang terdiri atas 4 personil (3 dosen; Dr. Taufik Ramlan Ramalis, M.Si., Dr. Judhistira Aria Utama, M.Si., & Nanang Dwi Ardi, M.T. serta 1 PLP; Cahyo Puji Asmoro, S.Pd.) selain melakukan pengamatan gerhana dan akuisisi data, juga menyempatkan melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) satu hari sebelum fenomena terjadi, berupa sosialisasi gerhana dan penyuluhan pengamatan Matahari secara aman. Kegiatan PkM dilaksanakan di Madrasah Aliyah Nurul Hidayah di Kec. Sungai Apit, melibatkan guru-guru dan para siswa. Salah satu momen yang mengharukan adalah hadirnya alumnus Departemen Fisika FPMIPA UPI di lokasi, saat mengetahui dosen-dosen dan kakak tingkatnya hadir di Pulau Sumatera. Tidak hanya membawa serta keluarga, melainkan juga sejumlah siswa sekolahnya meskipun harus menempuh perjalanan tidak kurang dari 200 km dari tempat asal menuju lokasi pengamatan dan festival ini!
Tim sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah menganugerahkan kondisi langit di atas kota Siak yang cerah sejak fase sebagian dimulai pada 10:22 WIB hingga berakhirnya fase cincin pukul 12:19 WIB. Data yang telah berhasil diperoleh selanjutnya siap untuk menjalani proses reduksi dan pengolahan lebih lanjut untuk dapat dituangkan dalam bentuk artikel ilmiah, sesuai tekad seluruh anggota Tim. Ekspedisi seperti ini memiliki nilai penting sebagai upaya verifikasi atas model perhitungan gerak dan posisi benda langit, selain untuk mengungkap pula fenomena fisis lain yang menyertai peristiwa gerhana. Gerhana Matahari berikutnya yang melintasi wilayah Indonesia akan terjadi pada 20 April 2023 mendatang. Gerhana ini menjadi istimewa karena dikatagorikan sebagai gerhana hybrid.
Gerhana hybrid ini dapat diamati sebagai gerhana Matahari total dan cincin di sepanjang jalur yang dilintasinya. Dalam fenomena gerhana hybrid ini, penduduk yang bermukim di Australia akan mengesaninya sebagai Gerhana Matahari Cincin (GMC) sementara dari wilayah Papua Indonesia, teramati sebagai Gerhana Matahari Total (GMT). Beberapa foto kegiatan PkM dan pengamatan gerhana di lokasi serta kemeriahan festival yang menelurkan rekor dunia berupa kacamata Matahari terbesar, kami sertakan pula dalam catatan singkat ini untuk dapat dinikmati oleh para pembaca. Sampai bertemu di ekspedisi GMT 2023!

Dokumentasi Foto

 

Catat! Daftar Gerhana Berikutnya yang Sapa Indonesia

Jakarta – Bagi kalian yang ketinggalan menyaksikan Gerhana Matahari Cincin pada hari ini, Kamis (26/12) kemarin, jangan khawatir. Masih ada gerhana berikutnya yang tak kalah menarik.

Ke depannya, Indonesia akan disapa dengan gerhana Bulan, gerhana Matahari, hingga gerhana hibrida. Begitu informasi yang disampaikan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).Seperti yang disampaikan Peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN, Rhorom Priyatikanto, fenomena alam yang paling dekat itu gerhana Bulan penumbra, di mana akan terjadi pada 10 Januari 2020. Sayangnya, dikatakan Rhorom, gerhana Bulan penumbra ini sulit untuk dilihat.

“10 Januari 2020 akan ada gerhana Bulan penumbra. Bisa dilihat di Indonesia, tapi memang tidak begitu jelas. Hampir tak berasa atau tak terlihat oleh mata,” kata Rhorom, Kamis (26/12/2019).

Selang satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 26 Mei 2021, Indonesia kembali disapa gerhana Bulan, di mana kali ini versi total. Wilayah Indonesia bagian timur yang beruntung menyaksikan peristiwa alam ini.Yang paling menarik adalah pada tanggal 20 April 2023, Indonesia mengalami Gerhana Matahari Hibrida. Rhorom menjelaskan gerhana Matahari tersebut merupakan perpaduan antara cincin dan total.

Untuk diketahui, Gerhana Matahari Total pernah menyambangi Indonesia pada 9 Maret 2016 dan Gerhana Matahari Cincin terjadi pada 26 Desember.

“Gerhana (Matahari Hibrida) ini sedikit berbeda dibandingkan gerhana tahun 2016. Ini merupakan kombinasi cincin dan total,” pungkasnya.

Selengkapnya klik disini

Syukwis 2019

Syukwis 2019 dimeriahkan oleh musisi kondang yang kata pa Aria “SiNaFi 5.0 harus ngundang dia …” kata pa Agus Jauhari musisi itu adalah Dani Ahmad, kata pa Samsudin Ahmad Nanang.

Mengomentari foto Wisudawan dan Panitia pa Aria berujar “Semoga bermanfaat ilmu yg didapat & menjadi jariyah bagi Bapak/Ibu dosen. Aamiin.

Syukuran wisuda Oktober 2019 ini juga dimeriahkan oleh …

Penemu Exoplanet dan Teori Terbentuknya Semesta Raih Nobel Fisika tahun 2019

Stockholm – Penghargaan prestisius di dunia sains, yaitu Nobel Fisika edisi tahun 2019, telah dianugerahkan pada 3 ilmuwan yang menghasilkan temuan terobosan tentang alam semesta. Mereka adalah James Peebles, Michel Mayor dan Didier Queloz.
“Nobel Fisika tahun ini dihadiahkan untuk pemahaman baru tentang struktur alam semesta dan sejarahnya, serta penemuan pertama planet yang mengorbit pada bintang semacam Matahari di luar tata surya,” sebut komite Nobel.
Peebles menerima Nobel terkait penelitian tentang evolusi alam semesta, sedangkan Mayor dan Queloz menang karena penemuan planet yang mengorbit pada bintang serupa Matahari. Ketiganya berbagi hadiah uang tunai senilai 738 ribu poundsterling.

“Mereka memberitahu kita sesuatu yang penting, tentang tempat kita di alam semesta. Yang pertama melacak sejarah pada asal muasal yang tak diketahui. Lainnya mencoba menjawab apakah kita sendirian, apa ada kehidupan di tempat lain di semesta?” kata Ulf Danielsson, anggota komite Nobel.

Dikutip detikINET (selengkapnya) dari BBC, James Peebles yang kelahiran Kanada dan berkebangsaan Amerika Serikat, memprediksi eksistensi cosmic microwave background (CMB) dalam terbentuknya semesta, yang diproduksi setelah terjadinya Big Bang. Dengan mempelajari CMB, ilmuwan dapat menentukan usia, bentuk serta kandungan alam semesta.

“CMB ditemukan pada tahun 1965 dan menjadi hal penting dalam pemahaman kita tentang bagaimana semesta berkembang dari kelahirannya sampai saat ini,” kata Mats Larsson, anggota komite Nobel Fisika.

Lubang Hitam Raksasa Bertabrakan

Sebuah studi terbaru menyebutkan, ada tiga supermassive black hole alias lubang hitam supermasif yang bertabrakan dan saat ini sedang berproses lebur menjadi satu. 

Ketiga lubang hitam ‘monster’ ini tercatat berpusat di SDSS J084905.51 + 111447.2, sebuah sistem trio galaksi yang bergabung sekitar 1 miliar tahun cahaya dari bumi. detik[dot]com 

Kuliah Umum

Dear mahasiswa dan bapak/ibu dosen. Fakultas PMIPA berkolaborasi dengan Departemen Pendidikan Fisika dan Prodi IPSE akan menyelenggarakan Kuliah Umum dengan tema: Science education as a research area: How to do it and how to publish it in international journals?
Pada hari: Kamis, 26 September 2019
Pukul 09.00 s.d. 12.00 WIB. Bertempat di FPMIPA-A Lt.4 Ruang E-406. Kuliah Umum ini gratis, dapat sertifikat dan konsumsi.
Berhubung kuota terbatas hanya 120 pendaftar pertama.

 

Info Seminar

SEMINAR NASIONAL FISIKA V (SiNaFi 5.0) 2019 Departemen Pendidikan Fisika FPMIPA UPI  tahun ini mengangkat tema “Pendidikan dan Penelitian Fisika Menyongsong  Sustainable Development Goals (SGDs)” dan akan diselenggarakan pada hari 

Sabtu, 23 November 2019 di Auditorium FPMIPA UPI Jl. Dr. Setiabudhi 229 Bandung

Pembicara Kunci:
1. Prof. Drs. Triyanta MS, Ph.D (Departemen Fisika ITB)
2. Dr. Surono, D.E.A (Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM)

Formulir Pendaftaran bisa akses di  https://bit.ly/sinafi2019

akhir penerimaan abstrak : 23 Oktober 2019 template abstrak unduh disini
akhir penerimaan artikel lengkap: 13 November 2019 ⇒ template fullpaper unduh disini

informasi lengkap akses ke web  http://fisika.upi.edu/sinafi/

“Masih Relevankah …

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA(UPI) MENJAWAB PERTANYAAN: 
“Masih Relevankah Kriteria Ketinggian Hilal 2o?”

Oleh:
Judhistira-Aria-Utama, S.Si., M.Si., Dr.
j.aria.utama@upi.edu

Laboratorium Bumi & Antariksa
Departemen Pendidikan Fisika
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudhi 229 Bandung 40154 Jawa Barat

Menggunakan konsep kontras relatif (rasio antara kontras dengan ambang kontras Blackwell), Sultan (2006) mendapati bahwa untuk konfigurasi geometri yang sempurna (beda azimut terbenam antara Bulan – Matahari, DAZ = 00) di lokasi dengan elevasi ~ 2000 m di atas permukaan laut, ketinggian Bulan untuk dapat diamati pertama kalinya pascakonjungsi adalah 20 terlepas dari berapapun nilai elongasi Bulan – Matahari. Memanfaatkan data laporan kesaksian mengamati hilal di Indonesia yang dihimpun oleh KEMENAG RI (1962 – 1997) dan LP2IF RHI (2007 – 2008) dan telah mengalami proses seleksi menggunakan model kecerahan langit senja dari Kastner (1976), hasil yang tidak berbeda didapatkan pula oleh Utama & Siregar (2013). Berdasarkan data yang tersedia, Utama & Siregar (2013) memperoleh bahwa tidak bergantung pada berapa lama sejak Matahari terbenam dicapainya nilai kontras maksimum, rata-rata nilai ketinggian Bulan di atas horison adalah 2,10. Studi dengan melibatkan jumlah data wilayah tropis yang lebih banyak (KEMENAG RI, 1962 – 2011; LP2IF RHI, 2007 – 2009; M.S. Odeh, 1859 – 2005) memberikan hasil yang tidak berbeda dari studi sebelumnya (Utama & Hilmansyah, 2013).

Utama & Hilmansyah (2013) memperoleh nilai-nilai minimal berbagai parameter fisis yang diperlukan untuk visibilitas hilal. Hasil tersebut disarikan berikut ini dan diusulkan sebagai kriteria visibilitas hilal untuk wilayah tropis:

Tabel 1. Nilai rata-rata parameter fisis saat dicapainya kontras maksimum

Penting untuk dicatat bahwa nilai-nilai dalam Tabel 1 merupakan NILAI RATA-RATA yang bersumber dari data otentik berupa kesaksian mengamati hilal pada saat kontras (rasio nilai kecerahan hilal terhadap nilai kecerahan langit senja dan langit malam) maksimum dicapai. Dengan demikian berdasarkan uraian di atas, sebagai jawaban atas pertanyaan dalam judul makalah ini, maka kriteria ketinggian hilal 20 MASIH RELEVAN dengan TAFSIRAN BARU. Ketinggian hilal minimal 20 adalah ketinggian yang dicapai pada saat kontras maksimum BUKAN saat Matahari terbenam. Artinya, ketinggian hilal pada saat Matahari terbenam akan memiliki nilai > 20 sesuai dengan hasil-hasil studi yang telah banyak dilakukan dan nilainya dapat saja BERVARIASI antara satu kasus hilal dengan kasus hilal lainnya.

Hanya hilal dengan ketinggian ~ 20 pada saat kontras maksimum yang akan dapat diamati baik dengan modus mata telanjang maupun berbantuan alat (binokuler/teleskop). Utama (2013) mendefinisikan saat kontras mencapai maksimum sebagai WAKTU TERBAIK (best time) mengamati hilal dan memperoleh persamaan sederhana untuk memprediksikan tibanya waktu tersebut, yaitu

Dibandingkan dengan prediksi Yallop (1997) tentang tibanya waktu terbaik, hasil yang diberikan persamaan (1) berada dalam rentang 5 – 20 menit lebih akhir (Utama, 2013).

Referensi

Kastner, S.O. 1976. Calculation of the Twilight Visibility Function of Near-Sun Objects. The Journal of The Royal Astronomical Society of Canada. Volume 70, No.4

Sultan, A.H. 2006. “Best Time” for the First Visibility of the Lunar Crescent. The Observatory. Volume 126, No.1191

Utama, J.A. 2013. Konsep “Best Time” dalam Observasi Hilal Menurut Model Visibilitas Kastner, dalam Prihantoso, K., Darmawan, D., Priyambodo, E., et al. Eds. Prosiding Seminar Nasional, Yogyakarta: Jurusan Fisika

Utama, J.A., Hilmansyah. 2013. Penentuan Parameter Fisis Hilal Sebagai Usulan Kriteria Visibilitas di Wilayah Tropis, dalam Supriyadi, Yulianto, A., Khumaedi, et al. Eds. Prosiding Seminar Nasional Fisika IV, Semarang: Jurusan Fisika

Utama, J.A., Siregar, S. 2013. Usulan Kriteria Visibilitas Hilal di Indonesia dengan Model Kastner. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia. Volume 9, No.2

Yallop, B.D. 1997. NAO Technical Note No. 69. HM Nautical Almanac Office, Royal Greenwich Observatory: Cambridge