Pengumuman

PENGUMUMAN

Kepada mahasiswa yang akan mendaftar ujian sidang  S1 bulan AGUSTUS 2021, diberitahukan bahwa:

Batas Akhir Pendaftaran Sidang       : Kamis, 19 Agustus 2021

Ujian Sidang                                       : Jum’at, 27 Agustus 2021

Pendaftaran dilakukan secara online melalui link berikut

Terimakasih.

Daftar Sidang S1  Klik Disini,  baca dengan seksama form ceklis dan persyaratan ujian sidang, kemudian lengkapi semua dokumen digitalisasi persyaratan lalu dikumpulkan secara online ke Departemen Pendidikan Fisika dengan terlebih dahulu membuat folder nama_mahasiswa

Daftar Sidang S2, baca dengan saksama, lengkapi semua dokumen persyaratan setelah terlebih dahulu ubah ke bentuk digital, lalu unggah ke Prodi Magister Pendidikan Fisika, dengan terlebih dahulu membuat folder nama_mahasiswa. Form dokumen persyaratan lainnya dapat diakses di laman web pasca sarjana

Jadwal UAS semester Ganjil 2021/2022 S1 Departemen Pendidikan Fisika dapat di klik di sini

Jadwal UAS Semester Ganjil 2021/2022 S2 Pendidikan Fisika di klik di sini

DOSEN UPI RAIH PRESTASI 50 PENELITI TERBAIK INDONESIA VERSI SINTA SERIES 1 TAHUN 2020

NEWS may on July

Tiga tenaga dosen Universitas Pendidikan Indonesia meraih prestasi sebagai 50 peneliti terbaik Indonesia versi Science and Technology Index (SINTA) Kementerian Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional. Publikasi pemeringkatan kinerja ilmuwan Indonesia Tahun 2020 berbasis SINTA ini secara resmi diluncurkan oleh Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D dalam acara SINTA Series 1 Tahun 2020 (28/5/2020).

Peringkat ke-13 dari 50 peneliti terbaik Indonesia versi SINTA Series 1 Tahun 2020 diraih oleh Dr. Eng. Asep Bayu Dani Nandiyanto, S.T., M.Eng. Merupakan tenaga dosen program studi kimia FPMIPA UPI dengan bidang keahlian nanoteknologi, kimia, serta teknik kimia.   Peringkat ke-17 diraih oleh Prof. Dr. Ade Gaffar Abdullah, S.Pd., M.Si. Merupakan dosen program studi pendidikan teknik elektro FPTK UPI. ia merupakan profesor/guru besar dalam bidang Ilmu Komputasi Energi. Peringkat ke-47 diraih oleh Dr. Achmad Samsudin, M.Pd. Merupakan tenaga dosen program studi pendidikan fisika FPMIPA UPI dengan bidang keahlian conceptual change, miskonsepsi, multimedia dalam pembelajaran fisika serta pendidikan fisika. Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., MA. menyampaikan apresiasi atas prestasi yang telah diraih oleh tiga tenaga dosen Universitas Pendidikan Indonesia sebagai sebagai 50 peneliti terbaik Indonesia versi Science and Technology Index (SINTA) Kementerian Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Humas UPI)

 

Seminar Nasional Fisika, Rintisan Pertama di Sukabumi

Bekali Guru dan Sekolah Hadapi Pembelajaran Abad 21

SMA Negeri 1 Cikembar adakan seminar dan workshop yang bekerjasama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Fisika Kabupaten Sukabumi dan Departemenn Pendidikan Fisika FPMIPA UPI Bandung, Sabtu (29/02/20). Dengan Tema ” Sains Untuk Masyarakat “, kegiatan ini dihadiri lebih dari 170 peserta yaitu diantaranya guru fisika dan guru IPA SMA,SMK dan SMP di Kota dan Kabupaten Sukabumi.

Ketua pelaksana seminar dan workshop fisika Indra Samsudin menyampaikan, “kegiatan ini terdiri dari dua bagian, ada kegiatan yang di khususkan untuk guru ada juga yang di khususkan untuk siswa sebagai peserta. Untuk guru kami mengadakan Seminar Workshop seputar isu-isu terkini pendidikan berupa workshop yang dihadiri langsung oleh narasumber dari dosen-dosen utama Departemen Pendidikan Fisika UPI Bandung. Dan simulasi pembekalan materi konten fisika serta untuk siswa SMP kami sediakan percobaan IPA berupa magic sains dan untuk SMA kami sediakan bimbingan karir. Harapan dari kegiatan ini semoga dapat meningkatkan kemampuan guru dan kompetensi guru serta dapat meningkatkan motivasi dan minat siswa untuk selalu belajar IPA. Kegiatan ini untuk wilayah Kabupaten Sukabumi adalah rintisan yang pertama dan semoga bisa menjadi pelopor untuk MGMP bidang mata pelajaran yang lain.

Kedepannya kami akan mengagendakan kegiatan seperti ini dengan konsep acara yang lebih pariatif ” kata Indra Syamsudin kepada Radar Sukabumi. (diadaptasi dari Nurma-radarsukabumi.com)

Berita Perjalanan TOGEMA

BERITA PERJALANAN
EKSPEDISI GERHANA MATAHARI CINCIN 26 DESEMBER 2019
TIM OBSERVASI GERHANA MATAHARI (TOGEMA)
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

MEMBURU CINCIN MATAHARI HINGGA SIAK SRI INDRAPURA

Pada Kamis, 26 Desember 2019 yang lalu, telah berlangsung fenomena Gerhana Matahari Cincin (GMC). Peristiwa alam ini merupakan kejadian gerhana Matahari terakhir sepanjang tahun 2019 dan satu-satunya (dari 3 gerhana Matahari) yang dapat diamati dari wilayah Indonesia. Mengingat jalur cincin selebar 118 km hanya melintasi pulau Sumatera dan Kalimantan, dari kampus UPI yang berlokasi di kota Bandung, Jawa Barat, fenomena gerhana ini hanya akan dinikmati sebagai Gerhana Matahari Sebagian (GMS). Dengan pertimbangan di atas, “Tim Pemburu Gerhana” Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memutuskan untuk melakukan ekspedisi ke luar Jawa. Dengan dukungan penuh dari Rektor UPI, Tim Observasi Gerhana Matahari (TOGEMA) akhirnya dapat merealisasikan mimpi di atas. Setelah mempelajari data pola cuaca di jalur cincin gerhana selama beberapa tahun ke belakang dan prediksinya pada hari kejadian, dengan bulat ditetapkan Kampung Bunsur di Kec. Sungai Apit Kab. Siak, Provinsi Riau, sebagai lokasi yang akan dituju. Pertimbangan lainnya adalah lokasi ini juga menjadi tempat diselenggarakannya Festival Gerhana Matahari Cincin di Prov. Riau, hasil kolaborasi antara Dinas Pariwisata Kab. Siak dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), yang dijadwalkan akan dihadiri pula oleh Wakil Gubernur Riau, Bupati Siak, dan Kepala LAPAN, serta kelompok musik kenamaan, Sabyan. Selain itu, di lokasi yang sama juga menjadi tempat terbaik untuk mengamati GMC kali ini, karena memberikan kesempatan terlama (yaitu selama 3 menit 40 detik) untuk dapat mengamati fase cincin dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya.
Tim yang terdiri atas 4 personil (3 dosen; Dr. Taufik Ramlan Ramalis, M.Si., Dr. Judhistira Aria Utama, M.Si., & Nanang Dwi Ardi, M.T. serta 1 PLP; Cahyo Puji Asmoro, S.Pd.) selain melakukan pengamatan gerhana dan akuisisi data, juga menyempatkan melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) satu hari sebelum fenomena terjadi, berupa sosialisasi gerhana dan penyuluhan pengamatan Matahari secara aman. Kegiatan PkM dilaksanakan di Madrasah Aliyah Nurul Hidayah di Kec. Sungai Apit, melibatkan guru-guru dan para siswa. Salah satu momen yang mengharukan adalah hadirnya alumnus Departemen Fisika FPMIPA UPI di lokasi, saat mengetahui dosen-dosen dan kakak tingkatnya hadir di Pulau Sumatera. Tidak hanya membawa serta keluarga, melainkan juga sejumlah siswa sekolahnya meskipun harus menempuh perjalanan tidak kurang dari 200 km dari tempat asal menuju lokasi pengamatan dan festival ini!
Tim sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah menganugerahkan kondisi langit di atas kota Siak yang cerah sejak fase sebagian dimulai pada 10:22 WIB hingga berakhirnya fase cincin pukul 12:19 WIB. Data yang telah berhasil diperoleh selanjutnya siap untuk menjalani proses reduksi dan pengolahan lebih lanjut untuk dapat dituangkan dalam bentuk artikel ilmiah, sesuai tekad seluruh anggota Tim. Ekspedisi seperti ini memiliki nilai penting sebagai upaya verifikasi atas model perhitungan gerak dan posisi benda langit, selain untuk mengungkap pula fenomena fisis lain yang menyertai peristiwa gerhana. Gerhana Matahari berikutnya yang melintasi wilayah Indonesia akan terjadi pada 20 April 2023 mendatang. Gerhana ini menjadi istimewa karena dikatagorikan sebagai gerhana hybrid.
Gerhana hybrid ini dapat diamati sebagai gerhana Matahari total dan cincin di sepanjang jalur yang dilintasinya. Dalam fenomena gerhana hybrid ini, penduduk yang bermukim di Australia akan mengesaninya sebagai Gerhana Matahari Cincin (GMC) sementara dari wilayah Papua Indonesia, teramati sebagai Gerhana Matahari Total (GMT). Beberapa foto kegiatan PkM dan pengamatan gerhana di lokasi serta kemeriahan festival yang menelurkan rekor dunia berupa kacamata Matahari terbesar, kami sertakan pula dalam catatan singkat ini untuk dapat dinikmati oleh para pembaca. Sampai bertemu di ekspedisi GMT 2023!

Dokumentasi Foto

 

Catat! Daftar Gerhana Berikutnya yang Sapa Indonesia

Jakarta – Bagi kalian yang ketinggalan menyaksikan Gerhana Matahari Cincin pada hari ini, Kamis (26/12) kemarin, jangan khawatir. Masih ada gerhana berikutnya yang tak kalah menarik.

Ke depannya, Indonesia akan disapa dengan gerhana Bulan, gerhana Matahari, hingga gerhana hibrida. Begitu informasi yang disampaikan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).Seperti yang disampaikan Peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN, Rhorom Priyatikanto, fenomena alam yang paling dekat itu gerhana Bulan penumbra, di mana akan terjadi pada 10 Januari 2020. Sayangnya, dikatakan Rhorom, gerhana Bulan penumbra ini sulit untuk dilihat.

“10 Januari 2020 akan ada gerhana Bulan penumbra. Bisa dilihat di Indonesia, tapi memang tidak begitu jelas. Hampir tak berasa atau tak terlihat oleh mata,” kata Rhorom, Kamis (26/12/2019).

Selang satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 26 Mei 2021, Indonesia kembali disapa gerhana Bulan, di mana kali ini versi total. Wilayah Indonesia bagian timur yang beruntung menyaksikan peristiwa alam ini.Yang paling menarik adalah pada tanggal 20 April 2023, Indonesia mengalami Gerhana Matahari Hibrida. Rhorom menjelaskan gerhana Matahari tersebut merupakan perpaduan antara cincin dan total.

Untuk diketahui, Gerhana Matahari Total pernah menyambangi Indonesia pada 9 Maret 2016 dan Gerhana Matahari Cincin terjadi pada 26 Desember.

“Gerhana (Matahari Hibrida) ini sedikit berbeda dibandingkan gerhana tahun 2016. Ini merupakan kombinasi cincin dan total,” pungkasnya.

Selengkapnya klik disini

Penemu Exoplanet dan Teori Terbentuknya Semesta Raih Nobel Fisika tahun 2019

Stockholm – Penghargaan prestisius di dunia sains, yaitu Nobel Fisika edisi tahun 2019, telah dianugerahkan pada 3 ilmuwan yang menghasilkan temuan terobosan tentang alam semesta. Mereka adalah James Peebles, Michel Mayor dan Didier Queloz.
“Nobel Fisika tahun ini dihadiahkan untuk pemahaman baru tentang struktur alam semesta dan sejarahnya, serta penemuan pertama planet yang mengorbit pada bintang semacam Matahari di luar tata surya,” sebut komite Nobel.
Peebles menerima Nobel terkait penelitian tentang evolusi alam semesta, sedangkan Mayor dan Queloz menang karena penemuan planet yang mengorbit pada bintang serupa Matahari. Ketiganya berbagi hadiah uang tunai senilai 738 ribu poundsterling.

“Mereka memberitahu kita sesuatu yang penting, tentang tempat kita di alam semesta. Yang pertama melacak sejarah pada asal muasal yang tak diketahui. Lainnya mencoba menjawab apakah kita sendirian, apa ada kehidupan di tempat lain di semesta?” kata Ulf Danielsson, anggota komite Nobel.

Dikutip detikINET (selengkapnya) dari BBC, James Peebles yang kelahiran Kanada dan berkebangsaan Amerika Serikat, memprediksi eksistensi cosmic microwave background (CMB) dalam terbentuknya semesta, yang diproduksi setelah terjadinya Big Bang. Dengan mempelajari CMB, ilmuwan dapat menentukan usia, bentuk serta kandungan alam semesta.

“CMB ditemukan pada tahun 1965 dan menjadi hal penting dalam pemahaman kita tentang bagaimana semesta berkembang dari kelahirannya sampai saat ini,” kata Mats Larsson, anggota komite Nobel Fisika.

Lubang Hitam Raksasa Bertabrakan

Sebuah studi terbaru menyebutkan, ada tiga supermassive black hole alias lubang hitam supermasif yang bertabrakan dan saat ini sedang berproses lebur menjadi satu. 

Ketiga lubang hitam ‘monster’ ini tercatat berpusat di SDSS J084905.51 + 111447.2, sebuah sistem trio galaksi yang bergabung sekitar 1 miliar tahun cahaya dari bumi. detik[dot]com 

“Masih Relevankah …

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA(UPI) MENJAWAB PERTANYAAN: 
“Masih Relevankah Kriteria Ketinggian Hilal 2o?”

Oleh:
Judhistira-Aria-Utama, S.Si., M.Si., Dr.
j.aria.utama@upi.edu

Laboratorium Bumi & Antariksa
Departemen Pendidikan Fisika
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudhi 229 Bandung 40154 Jawa Barat

Menggunakan konsep kontras relatif (rasio antara kontras dengan ambang kontras Blackwell), Sultan (2006) mendapati bahwa untuk konfigurasi geometri yang sempurna (beda azimut terbenam antara Bulan – Matahari, DAZ = 00) di lokasi dengan elevasi ~ 2000 m di atas permukaan laut, ketinggian Bulan untuk dapat diamati pertama kalinya pascakonjungsi adalah 20 terlepas dari berapapun nilai elongasi Bulan – Matahari. Memanfaatkan data laporan kesaksian mengamati hilal di Indonesia yang dihimpun oleh KEMENAG RI (1962 – 1997) dan LP2IF RHI (2007 – 2008) dan telah mengalami proses seleksi menggunakan model kecerahan langit senja dari Kastner (1976), hasil yang tidak berbeda didapatkan pula oleh Utama & Siregar (2013). Berdasarkan data yang tersedia, Utama & Siregar (2013) memperoleh bahwa tidak bergantung pada berapa lama sejak Matahari terbenam dicapainya nilai kontras maksimum, rata-rata nilai ketinggian Bulan di atas horison adalah 2,10. Studi dengan melibatkan jumlah data wilayah tropis yang lebih banyak (KEMENAG RI, 1962 – 2011; LP2IF RHI, 2007 – 2009; M.S. Odeh, 1859 – 2005) memberikan hasil yang tidak berbeda dari studi sebelumnya (Utama & Hilmansyah, 2013).

Utama & Hilmansyah (2013) memperoleh nilai-nilai minimal berbagai parameter fisis yang diperlukan untuk visibilitas hilal. Hasil tersebut disarikan berikut ini dan diusulkan sebagai kriteria visibilitas hilal untuk wilayah tropis:

Tabel 1. Nilai rata-rata parameter fisis saat dicapainya kontras maksimum

Penting untuk dicatat bahwa nilai-nilai dalam Tabel 1 merupakan NILAI RATA-RATA yang bersumber dari data otentik berupa kesaksian mengamati hilal pada saat kontras (rasio nilai kecerahan hilal terhadap nilai kecerahan langit senja dan langit malam) maksimum dicapai. Dengan demikian berdasarkan uraian di atas, sebagai jawaban atas pertanyaan dalam judul makalah ini, maka kriteria ketinggian hilal 20 MASIH RELEVAN dengan TAFSIRAN BARU. Ketinggian hilal minimal 20 adalah ketinggian yang dicapai pada saat kontras maksimum BUKAN saat Matahari terbenam. Artinya, ketinggian hilal pada saat Matahari terbenam akan memiliki nilai > 20 sesuai dengan hasil-hasil studi yang telah banyak dilakukan dan nilainya dapat saja BERVARIASI antara satu kasus hilal dengan kasus hilal lainnya.

Hanya hilal dengan ketinggian ~ 20 pada saat kontras maksimum yang akan dapat diamati baik dengan modus mata telanjang maupun berbantuan alat (binokuler/teleskop). Utama (2013) mendefinisikan saat kontras mencapai maksimum sebagai WAKTU TERBAIK (best time) mengamati hilal dan memperoleh persamaan sederhana untuk memprediksikan tibanya waktu tersebut, yaitu

Dibandingkan dengan prediksi Yallop (1997) tentang tibanya waktu terbaik, hasil yang diberikan persamaan (1) berada dalam rentang 5 – 20 menit lebih akhir (Utama, 2013).

Referensi

Kastner, S.O. 1976. Calculation of the Twilight Visibility Function of Near-Sun Objects. The Journal of The Royal Astronomical Society of Canada. Volume 70, No.4

Sultan, A.H. 2006. “Best Time” for the First Visibility of the Lunar Crescent. The Observatory. Volume 126, No.1191

Utama, J.A. 2013. Konsep “Best Time” dalam Observasi Hilal Menurut Model Visibilitas Kastner, dalam Prihantoso, K., Darmawan, D., Priyambodo, E., et al. Eds. Prosiding Seminar Nasional, Yogyakarta: Jurusan Fisika

Utama, J.A., Hilmansyah. 2013. Penentuan Parameter Fisis Hilal Sebagai Usulan Kriteria Visibilitas di Wilayah Tropis, dalam Supriyadi, Yulianto, A., Khumaedi, et al. Eds. Prosiding Seminar Nasional Fisika IV, Semarang: Jurusan Fisika

Utama, J.A., Siregar, S. 2013. Usulan Kriteria Visibilitas Hilal di Indonesia dengan Model Kastner. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia. Volume 9, No.2

Yallop, B.D. 1997. NAO Technical Note No. 69. HM Nautical Almanac Office, Royal Greenwich Observatory: Cambridge

PENGUMUMAN

PENGUMUMAN

Jadwal UAS Semester Ganjil 2018/2019 dapat dilihat disini

Kepada mahasiswa yang akan mendaftar ujian sidang  JANUARI 2019, diberitahukan bahwa:

Batas Akhir Pendaftaran Sidang       : Rabu, 16 Januari 2019

Ujian Sidang                                       : Jum’at, 25 Januari 2019

Terimakasih.

Daftar Sidang  Klik Disini  semua dokumen persyaratan dikumpulkan ke departemen

Layanan Mahasiswa klik disini

AKANKAH HILAL SYAWAL 1439 H/2018 M DAPAT DIRUKYAT?

Dr. Judhistira Aria Utama, M.Si.

Laboratorium Bumi dan Antariksa

Departemen Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan MIPA, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Anggota Tim Perumus Naskah Akademik Kriteria Imkan Rukyat & Bergiat di Konsorsium Rukyat Hilal Hakiki (KRHH)

Ferry Mukharradi Simatupang, M.Si.

Program Studi Astronomi, Fakultas MIPA, Institut Teknologi Bandung (ITB)

 

Jika merujuk pangkalan data The Islamic Crescent Observation Project (ICOP) yang mendokumentasikan kegiatan pengamatan hilal (fase Bulan sabit pertama pascakonjungsi yang wujud setelah terbenamnya Matahari) di seluruh dunia dalam kurun waktu 1859 hingga 2000, dapat dijumpai satu kondisi yang menyerupai situasi yang akan dihadapi para pemburu hilal di Indonesia pada Kamis petang, 14 Juni 2018 yang akan datang. Data tersebut berupa laporan keberhasilan mengamati hilal secara kasat mata (mata telanjang) oleh Isiaq dari lokasi di dekat khatulistiwa (60 30’ Lintang Utara, 30 24’ Bujur Timur) pada 31 Juli 2000 silam. Pada waktu terbaik (best time) pengamatan kala itu, umur Bulan sejak fase Bulan mati atau konjungsi adalah 16,8 jam (sementara di Lhok Nga NAD, dengan koordinat 50 28’ Lintang Utara, 950 15’ Bujur Timur, pada 14 Juni 2018 nanti sebesar 16,6 jam), lama Bulan di atas ufuk 36 menit (Lhok Nga, 37 menit), beda tinggi Matahari – Bulan 8,40 (Lhok Nga, 8,60), dan elongasi 8,60 (Lhok Nga, 9,20). Kemiripan parameter-parameter Bulan dalam kasus hilal penentu awal Syawal 1439 H dengan yang pernah terjadi dalam kasus di atas, memberikan optimisme tersendiri bahwa umat Muslim Indonesia akan mengakhiri Ramadan dan menyongsong fajar Syawal tahun ini secara serentak.

Dari kalkulasi (hisab) astronomis, fase Bulan mati akan terjadi pada Kamis 14 Juni 2018 pukul 02:44 WIB (= 03:44 WITA, 04:44 WIT). Aktivitas mengamati (rukyathilal akan dilakukan pada petang hari yang sama, tidak lama setelah Matahari terbenam. Pada saat Matahari terbenam di suatu tempat, yang ditandai dengan tepi atas piringan Matahari berada di ufuk, tidak serta-merta langit menjadi gelap. Langit masih cukup terang akibat hamburan sinar Matahari oleh atmosfer, yang akan menyulitkan pengamat untuk dapat mengesani sosok hilal yang tipis dan redup dengan modus pengamatan mata telanjang. Dengan semakin dalamnya posisi Matahari di bawah ufuk, langit di ufuk barat pun secara gradual menjadi lebih gelap yang akan membantu pengamat untuk memperoleh kontras yang baik guna mampu mengesani hilal. Dari pengalaman empirik mengamati hilal sejak tahun 1990-an, Sdr. Achmad I. Adjie (pendiri dan pegiat astronomi di Konsorsium Rukyat Hilal Hakiki – KRHH), menemukan kaidah sederhana bahwa hilal dapat diamati kasat mata tidak mungkin lebih awal dari (rata-rata) 12 menit pascaterbenamnya Matahari. Kaidah ini dapat dibuktikan bersesuaian dengan prediksi model matematis, bahwa dalam selang waktu sejak terbenamnya Matahari hingga 12 menit setelahnya, kecerahan langit senja masih cukup kuat untuk mengalahkan kecerahan hilal. Mengingat waktu terbenamnya Bulan dalam fase konjungsi berdekatan dengan waktu terbenam Matahari, maka selama masa tunggu langit di dekat ufuk barat menjadi lebih gelap ketinggian Bulan di atas ufuk juga terus berkurang.

Dalam peta kenampakan hilal global penentu awal Syawal 1439 H yang dibangkitkan menggunakan perangkat lunak Accurate Times 5.3 dari Mohammad Odeh (Gambar 1), sebagian besar wilayah Indonesia berada di arsiran warna biru yang menandai kawasan yang dapat mengamati hilal hanya dengan bantuan alat optik (binokular/teleskop dengan perbesaran sudut tertentu), sementara sebagian pulau Jawa dan seluruh Sumatera merupakan kawasan yang berpeluang dapat mengamati hilal dengan mata telanjang. Bilakah tersedianya jendela waktu mengesani hilal akan diperoleh memanfaatkan model Kastner yang dimodifikasi. Untuk keperluan ini digunakan lokasi Observatorium Tgk. Chiek Kuta Karang Lhok Nga, Nanggroe Aceh Darussalam, mewakili kawasan barat Indonesia yang berpeluang mengamati hilal secara kasat mata. Kurva kenampakan yang dihasilkan ditunjukkan dalam Gambar 2.

Gambar 1.   Peta kenampakan (visibilitas) hilal global sebagai fungsi lintang (sumbu tegak) dan bujur geografis (sumbu mendatar) pada hari terjadinya konjungsi, 14 Juni 2018. Wilayah yang diarsir warna biru menandai kawasan yang dapat mengamati hilal dengan bantuan alat optik, sementara magenta merupakan kawasan yang berpeluang dapat mengamati hilal dengan mata telanjang (tanpa bantuan alat optik). Sebagian kawasan di bagian barat Indonesia berada dalam arsiran warna ini. Warna hijau untuk kawasan yang dapat mengamati hilal dengan mudah berbekal mata telanjang.

Gambar 2.   Kurva kenampakan hilal pada hari terjadinya konjungsi, 14 Juni 2018 di Observatorium Tgk. Chiek Kuta Karang, Lhok Nga, Nanggroe Aceh Darussalam.

Berdasarkan Gambar 2, pengamat perlu berkonsentrasi sejak 15 menit pascaterbenam Matahari untuk dapat mengesani hilal di ketinggian ~ 40. Momentum ini ditandai dengan peralihan dari visibilitas bernilai negatif menuju visibilitas positif, sehingga dapat digunakan untuk menguji kepekaan mata pengamat. Selama ~ 15 menit berikutnya, hilal berpeluang untuk diamati sebelum terbenam pada 19:29 waktu setempat. Berhasil ataupun tidaknya hilal diamati (misal karena kendala cuaca) pada petang hari Kamis 14 Juni 2018 nanti, besar kemungkinan tidak akan mempengaruhi keputusan dalam sidang itsbat di Kementerian Agama, karena parameter-parameter Bulan pada waktu terbenamnya Matahari di seluruh wilayah Indonesia sudah melampaui nilai-nilai minimal bagi syarat teramatinya hilal dalam kriteria yang dirujuk (ketinggian Bulan: > 30 dan elongasi > 6,40). Dengan demikian, kondisi ini berpeluang menghasilkan masuknya laporan keberhasilan mengamati hilal untuk dapat disahkan dalam sidang itsbat petang hari tersebut. Selamat Idul Fitri 1439 H. Semoga Allah SWT menerima amaliah Ramadan kita dan menjadikan kita sebagai insan Indonesia yang bertakwa.